Inilah pengalaman berharga saya terjun di bisnis kuliner

Dulu, saya bersama suami pernah menjalankan usaha kuliner, jadi sedikit tahu bagaimana proses dan suka dukanya usaha kuliner. Usaha ini hanya dijadikan sebagai sambilan, bukan usaha pokok. Waktu itu ingin mencoba bagaimana rasanya punya usaha di bidang kuliner.

Usaha ini memang tidak dibangun dari awal tapi memakai sistem waralaba. Karena menurut saya lebih simpel dan langsung jalan. Alasan lainnya adalah produk sudah terkenal, SOP sudah ada,bahan baku tersedia, tinggal beli dan rasa/taste produknya sudah teruji.

Ini enaknya kalau kita menggunakan sistem waralaba. Seperti kita punya jalan pintas (shortcut) untuk memulai usaha.

Lagi pula, modal yang dibutuhkan tidaklah besar. Trend waralaba sekarang ini bisa dimulai dari modal kecil, mulai dari 3,5 juta dengan usaha model booth sampai yang puluhan juta dengan model gerobak keren.

Usaha kuliner awal waktu itu adalah menjual burger. Burger saat itu sedang tren dan hangat-hangatnya, kalau tidak salah sekitar tahun 2004 – 2007. Harga jualnya terjangkau bagi masyarakat umum.

Pengalaman usaha di bisnis kuliner jualan burger

Dengan modal 3 juta rupiah untuk membeli gerobak mini, peralatan masak, serta bahan baku awal, jualan burger pun bisa langsung jalan. Training cara memasaknya hanya dibutuhkan waktu 2 jam. Benar-benar usaha  instan.

Modal 3 juta tersebut alhamdulillah bisa balik dalam waktu 3 bulan. Bisa jadi karena lokasi yang sangat strategis, modal bisa balik dengan cepat. Inilah faktor utama di bisnis kuliner, kenapa lokasi sangat penting dan menentukan.

Di bulan-bulan selanjutnya kita tinggal menikmati keuntungannya.

Namun prosesnya tidak semudah itu, faktor cuaca ternyata menjadi ujian tersendiri bagi pelaku di bisnis kuliner ini. Bayangkan bila musim hujan tiba. Setiap hari hujan turun mulai sore sampai malam hari. Jantung rasanya berdenyut lebih cepat. Ada feeling jualan bakalan sepi nih, pikir saya.

Mungkin karena sudah faktor rejeki kali ya, tetap saja ada pembeli walaupun tidak seramai hari-hari biasanya.

Setelah berjalan 7 bulan lebih, usaha jualan burger ini akhirnya kami putuskan untuk tutup karena faktor punya momongan baru.

Dari usaha tersebut, saya bisa mendapat pengalaman yang sangat berharga. Disini ada 4 point yang saya simpulkan, yaitu :

1) Produk yang tepat dikonsumsi sore hari

Usaha kuliner seperti saya di kota yang berada di kabupaten Kebumen ini akan sangat laku dan bagus bila jenis makanannya termasuk penunjang untuk makan sore hari. Misal sate, nasi goreng, mie goreng, ayam bakar, ayam goreng.

Seperti kita tahu, tren keluarga baru/keluarga saat ini jarang memasak untuk dimakan sampai sore hari. Yang pasti lebih sering beli daripada masak sendiri, karena alasan kesibukan dan kepraktisan.

Makanan pagi yang disiapkan hanya cukup sampai siang hari. Sore harinya ya beli lagi.

Itulah kenapa menjual makanan yang menunjang makan besar di sore hari sangat bagus sebagai item utama di bisnis kuliner.

2) Rasa yang enak itu WAJIB.

Pakar branding Subiakto Priosoedarsono bilang, “Proses branding untuk kuliner diawali dengan GIGITAN PERTAMA. Kalau enak dan unik dia akan menaiki tangga Brand Heaven. Kalau gak enak dan gak unik, dia akan masuk Brand Hell”.

Perkataan pak Bi ini memang sangat tepat dan mengena. Sebagus apa pun tempatnya, kalau rasanya tidak enak, pasti langsung ditinggalkan konsumen. Apalagi kalau harganya juga tidak kompetitif. Tidak lama dipastikan TUTUP.

3) Be Social

Be social ini artinya banyaklah berinteraksi dengan pelanggan. Sebagai pelanggan, rasanya nyaman kalau kita bisa mengobrol dengan si pemilik. Dari sinilah saya pikir akan terjalin ikatan secara emosional.

Kalau bisnis sudah masuk ke hati, biasanya pembeli akan kembali dan kembali lagi.

4) Pelayanan yang cepat.

Gak enak kan kalau kita menunggu lama. Misalnya, sampai-sampai minuman yang kita pesan juga telat disajikan. Padahal, drink at first itu sangat penting menurut saya. Orang baru datang, paling enak ya disuguhi minuman dulu.

Poin 3 – 4 diatas adalah hasil kesimpulan dan pengamatan saya dari sisi konsumen, bukan dari sisi pelaku, karena usaha kuliner saya waktu itu hanya menggunakan gerobak biasa.

Walau usahanya singkat, namun menjadi pengalaman berharga bagi saya, semoga bisa menginspirasi 🙂

 

Leave a Reply

%d bloggers like this: