DESAin – Bila Desa Menjadi Primadona

Google terutama dengan Google Map seperti merubah segalanya. Perpektif lokasi menjadi berubah. Fenomena ini secara trend saya amati sebagai sesuatu yang tidak bisa diabaikan.

Deus tiba-tiba menjadi “The Temple of Enthusiasm” di desa Canggu. Bumi Langit di sebuah desa wilayah Imogiri dengan Permaculture nya. Lisa and Leo’s Organic mengembangkan lahan pertanian di pelosok Sumatra. Mas Singgih Kartono mengembangkan Radio Magno dan Spedagi di Desa Kandangan dan wilayah Papringan Temanggung. Dan masih banyak kabar baik di pelosok desa Nusantara.

Kebangkitan lokal menemukan momentum yang berbeda. Tingkat kunjungan ke lokasi-lokasi terpencil semakin tinggi. Destinasi dan eksplorasi desa semakin mudah dan menyenangkan.

Akses semakin terbuka dan orang dari mana pun bisa melakukan kerjasama. Brand dari negara mana pun bisa berkolaborasi dengan desa dan individu dari belahan mana pun bisa berinteraksi dengan desa.

Lalu apa yang bisa kita perbuat ketika semua akses begitu terbuka?

Ironi yang terjadi bahwa “orang tua petani tak mau anaknya menjadi petani”. Atau “lulusan Universitas Negeri Pertanian tak bekerja sebagai petani” seperti mendapat tantangan ketika profesi petani sangat strategis dan bisa jadi menjadi “keren”.

Food business menjadi bisnis primadona. Pertanian organik, tumpangsari, permaculture dan sustainability farming menjadi seru.

Korporasi besar seperti Mitsubishi atau Marubeni beramai-ramai masuk ke food business.

Desa akan menjadi primadona?

Ketika generasi Millenials semakin sadar tentang global concern/issues dan peningkatan aspirasi hasil bumi pangan semakin tumbuh disini lah Desa akan menjadi kekuatan.

Cabe, kakao, kopi, teh, beras dan hasil bumi lainnya tak lagi sekedar komoditi pangan tapi meningkat kurasi dan klasifikasi kualitasnya. Apresiasi meningkat.

Ketika standar REVIEW dan COMMENT serta penjelasan lokasi disediakan oleh Google semakin terbuka dan arus informasi semakin menarik di dunia pertanian. Sosial media menjadi media sharing efektif.

Saling apresiasi, saling mengkurasi dan saling memberi informasi bisa menjadi modal kuat bagaimana Indonesia melalui desanya berkembang menjadi kekuatan dahsyat.

Bahaya ketika tak menyadari potensi ini.


Leave a Reply

%d bloggers like this: